Kita belum juga menepi di ujung senja. Bahkan berakhir pada waktu yang sama. Tapi engkau sudah berhenti. Menapaki jejak-jejak mimpi yang telah engkau bawa.
Aku tak bisa melerai seperti menghentikan badai yang menerpa pepohonan, hingga
merobohkan rumah-rumah.
Padahal, harapanku masih sama. Engkau masih tetap di sini membersamai
perjuangan..
Namun kini perjuangan itu sirna, terbawa angin, terseret gelombang yang
memilukan.
Tak sedikitpun harap yang dituju.Untuk apa?
Ya, saya paham! Setiap perjalanan tidak akan melaju dengan cepat, bahkan
tidak sedikit dari kita akan melewati kerikil-kerikil tajam dan duri yang
menusuk kaki sampai berdarah.
Tak mengapa,, aku hanya sedikit kecewa, kenapa engkau meninggalkan amanah yang
belum terselesaikan? Membiarkanku sendirian menanggung beban yang lumayan rumit.
Ah,,, sudahlah. Semoga tak ada kebencian. Kita adalah sahabat, sekaligus
keluarga yang dipertemukan pada kesempatan yang sama.
Kita pernah bercengkrama dan menghabiskan waktu di masa itu. Bercerita dan
tertawa bersama.
Bermain gitar ketika sepi telah terlewati dengan nyanyian yang terdengar
sangat indah.
Bercerita tentang kisah-kisah hidup
yang penuh liku, juga keusilan yang hadir mewarnai perjalanan.
Semuanya mengalir begitu saja, seperti tanpa beban yang menyiksa. Kita sangat
menikmati masa itu, dan suatu saat akan sangat merindukan..

0 Response to "Belum Juga Menepi"
Posting Komentar